Kepala Diskominfo Bener Meriah Harapkan Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya Dilegitimasi

27-02-2020 06:01:03

Jakarta- Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Aceh, diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Irmansyah S.STP. MSP, menemui anggota Komisi III DPR RI M. Nasir Djamil di ruang kerjanya, Komplek DPR RI,  Senayan Jakarta,  Rabu (26/02/2020). Pertemuan tersebut untuk berkoordinasi  tentang legitimasi keberadaan dan peran perjuangan Radio Rimba Raya.

Sebagaimana dinyatakan dalam catatan sejarah, Radio RimbaRaya (Desember 1948-1949) adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Dataran tinggi Gayo, atau tepatnya di Kampung Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime, yang sekarang menjadi wilayah bagian Kabupaten Bener Meriah. Keberadaan Radio Rimba Raya berperan dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia dari Agresi Militer Belanda.

Radio Rimba Raya menyiarkan pesan kemerdekaan dan membantah propaganda Belanda bahwa Indonesia tidak ada lagi. Radio ini terus berperan sampai saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintahan Belanda pada 27 Desember 1949  di Jakarta sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.

Irmansyah yang didampingi oleh sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya, Ikmal Gopi dan pengusaha muda Dedy Satria mengatakan bahwa mengingat sejarah dan peran Radio Rimba Raya, maka perlu mendapatkan legitimasi dari Pemerintah RI sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa.

`Untuk itu kita perlu berkoordinasi dan konsultasi dengan Komisi III DPR RI. Langkah langkah apa yang perlu diambil agar legitimasi sejarah keberadaan Radio Rimba Raya segera terealisasi,` ujarnya.

Irmansyah juga memberitahukan bahwa di Bener Meriah sudah didirikan RRI Radio Rimba Raya sebagai bentuk penghargaaan dari RRI pusat. "Karena Radio Rimba Raya  juga cikal-bakal Voice Of Indonesia," kata Irmansyah.

Sutradara Film Dokumenter Radio Rimba Raya, Ikmal Gopi menjelaskan bahwa sejarah dan peran Radio Rimba Raya tidak bisa terlepas dari perjuangan rakyat Aceh.

"Seperti Kolonel Husin Yusuf komandan Divisi  X. Beliau ini adalah inisiator pembelian perangkat Radio Rimba Raya.  Dan para broadcaster Radio Rimba Raya pada waktu itu semestinya diberi gelar pahlawan nasional," ujar Ikmal.

`Saya punya film dokumenternya. Saya buat sendiri. Bahkan kalau perlu kita buat film layar lebar. Ini merupakan bagian edukasi dan upaya  untuk memperkenalkan peran Aceh terhadap membela negara ini,` jelas Ikmal.

Menanggapi permintaan tersebut Nasir Djamil mengatakan ia mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Bener Meriah.

`Saya merekomendasikan agar Pemkab Bener Meriah membuat proposal besar kepada Pemerintah Pusat dan pihak terkait agar legitimasi sejarah perjuangan Radio Rimba Raya ini dapat terealisasi,` jelasnya.

Ia juga mendorong Pemkab Bener Meriah bisa bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi Aceh agar dilaksanakan kegiatan-kegiatan secara kontinyu, misalnya seminar,  edukasi film, menulis sejarah ulang,  memasukkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah yang semuanya terkait sejarah perjuangan Radio Rimba Raya.

"Puncaknya adalah legacy oleh pemerintah pusat," lanjut Nasir Djamil.

Lebih jauh Nasir menjelaskan Forbes Aceh juga akan membantu agar proses legitimasi ini berjalan lancar. 'Nanti saya akan koordinasi dengan teman-teman Forbes Aceh,' ujarnya.

'Apalagi Plt. gubernur Aceh juga dari Wilayah Tengah, memiliki darah Gayo,  saya rasa beliau pasti akan mendukung. Jadi momentum yang bagus kolaborasi antara Pemkab Bener Meriah dan Provinsi Aceh, ditambah lagi presiden Joko Widodo baru kembali dari Kabupaten Bireuen yang dikenal sebagai kota juang, kota yang memiliki keterkaitan dengan perjuangan dan peran Radio Rimba Raya," jelasnya.

Nasir Djamil juga berjanji dalam masa reses akan ke Bener Meriah  bertemu dengan Pemerintah kabupaten dan berkunjung ke Monumen Radio Rimba Raya.

'Waktu pertemuan nanti, saya harap sudah ada hasil agar bisa ditindaklanjuti,' pinta Nasir.

Sementara, Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Golongan Karya Ilham Pangestu menyatakan sejarah dan keberadaan Radio Rimba Raya ini perlu menjadi perhatian semua pihak.

'Saya akan membantu nanti dengan teman-teman di sini agar film dokumenter Radio Rimba Raya bisa diputar dan disaksikan di Gedung Parlemen ini,' ujar anggota dewan dari Daerah Pemilihan Aceh II ini. *(fa/diskominfo-bm)

Popular Article
Facebook Fans Page